‘iidul Fithri 1432 Hijriah

30 08 2011

‘iidun sa’iid – taqabbalallahu minna wa minkum

Semoga menjadi hari raya yang menggembirakan – dan Allah menerima semua amalan kita

Aamiin

Iklan




Patin Omega 3 Bakar Bambu

23 08 2011

Patin Omega 3 Bakar Bambu

Di Bekasi terdapat sebuah rumah makan yang menyediakan menu masakan patin yang cukup bervariatif untuk ukuran pulau Jawa / Jakarta dimana ikan patin masih terasa kurang digemari dibandingkan di pulau Sumatera. RM Sangkuriang yang terdapat di daerah Jati Asih, Bekasi. Tepatnya dari Jati Asih (Komsen) menuju jalan akses yang melintasi Villa Nusa Indah dan dapat tembus ke Bantar Gebang. Rumah makan ini letaknya sebelum Villa Nusa Indah tersebut di sebelah kanan jalan, jadi kalau kita hendak menuju kesana dari arah Jati Asih (Komsen) namun sudah sampai Villa Nusa Indah berarti sudah terlewat.

Terdapat menu patin bakar, patin goreng, patin renyah pedas dan sup patin. Namun yang cukup unik adalah menu yang diberi nama oleh rumah makan ini dengan “Patin Omega 3 Bakar Bambu”, mungkin karena ikan patin adalah ikan yang paling banyak mengandung minyak ikan dibanding ikan tawar lainnya, di sisi lain juga ikan patin merupakan makanan yang memiliki banyak kandungan kadar protein dengan nilai ekonomis lebih tinggi (lebih murah) dari pada tahu/tempe bahkan daging sekalipun.

Di restoran lain menu ini ada yang dinamakan Bronkos Patin. Sajian olahan ikan patin yang dibungkus daun pisang beserta bumbu-bumbunya kemudian dimasukkan ke dalam bambu, lalu bambu tersebut dibakar hingga patin di dalam bambu tersebut matang. Bila sudah matang bambu dibelah setengah sehingga tampillah bungkusan daun pisangnya kemudian disajikan di atas piring beserta bambunya (tapi bambunya jangan dimakan ya).

Saya bukanlah orang yang pandai menilai rasa dari sebuah masakan secara detail, tapi yang jelas menu ini cukup lezat karena bumbu terasa begitu meresap ke daging. Sehingga saya yang kurang suka dengan karakter daging ikan yang terlalu lembut dapat tertutupi oleh resapan bumbu tersebut. Terlebih lagi menikmatinya dibarengi dengan lalapan dan sambal terasi yang menggugah selera saya, maknyossss…….

Selamat menikmati





Tiang-tiang Memori Curug 7, Cilember

16 08 2011

Curug 7 Cilember letaknya di Kabupaten Bogor, tepatnya dari jalan raya Puncak-Cisarua, dari arah jakarta belok ke kiri menyusuri jalan kurang lebih 5 km. Kini sudah ada plang petunjuk arah yang menunjukkan jalan akses menuju curug 7 cilember. Ketika sampai di pos pendaftaran atau pintu gerbang tempat wisata ini masih harus berjalan kaki lagi sejauh 1 km barulah akan sampai di air terjun (curug) 7 Cilember. Di Lokasi wisata curug Cilember ini sendiri terdapat 7 buah air terjun yg masing-masing jaraknya kurang lebih 0,5-1 jam perjalanan, yang terdekat dari pos pendaftaran adalah curug 7 dan yang terjauh curug 1 dan 2.

Dulu ketika pertama kali saya mengunjungi tempat ini pada waktu SMP, tempat ini terlihat kurang diperhatikan dan dieksplorasi oleh pemerintah setempat. Belum ada pemondokan dan para penjual aksesories, hanya beberapa warung makan terbuat dari kayu yang sudah terlihat tua. Ketika saya camping saat itu bersama teman-teman, masih terasa seperti berada di alam liar.

Namun kini tempat wisata ini sudah mengalami banyak perubahan. Mulai dari pintu gerbang yang sudah berbentuk gapura beton, jalan setapak yg sudah tertata rapi dihiasi dengan jembatan-jembatan dari bambu bercat warna hijau juga kolam-kolam kecil berisi ikan, 3-4 buah pemondokan indah dari kayu dengan harga berkisar 1,2 juta rupiah permalamnya, banyak penjual aksesories dan semakin banyak kantin, mushalla yang kecil namun bagus dan berlantaikan keramik hingga terdapat taman kupu-kupu. Sehingga ketika terakhir saya mengunjungi tempat ini, terasa sangat berbeda sekali seolah aroma alam liarnya sudah hilang. Meski demikian tidak mengurangi daya tarik air terjun yang ada di sana.

Meski tidak terlalu istimewa di mata kebanyakan wisatawan, namun bagi saya tempat ini begitu istimewa karna setiap kali saya mengunjungi tempat ini selalu mewakili fase perjalanan hidup dan orientasi jiwa yang berbeda-beda. Bahkan saya dan teman-teman (beberapa laki-laki dan wanita) pernah di hukum oleh penjaga wisata ini dengan push up dan pull up lantaran kami menerobos masuk tempat wisata ini tanpa melalui pos pendaftaran, mengikuti petunjuk dari penduduk setempat.

“One place Thousand reminders”





Jembatan Tuir Made in Kompeni

16 08 2011

Dalam perjalanan menuju Ciamis dari Tasikmalaya melalui jalan pintas, saya melewati sebuah jembatan tua buatan Belanda. Konon sudah berusia lebih dari seabad, Namun tak satupun bagian dari jembatan itu yang diganti, hingga ke kayu-kayu dibawahnya kecuali catnya saja yang tampak baru.

Untuk melewati jembatan ini, setiap kendaraan baik mobil maupun motorharus mengantri bergantian denga sistem buka-tutup. Warga setempat memanfaatkannya dengan meminta sumbangan atas jasa mereka mengontrol sistem buka-tutup lalu lintas kendaraan yang melewati jembatan tersebut.





Mengenang Touring Ujung Genteng (2)

16 08 2011

Setiba di lokasi pertama pantai Ujung Genteng atau yang disebut pantai nelayan seolah kita dipertemukan dengan lokasi wisata yang aneh. Tempat yang tidak beraturan dan sedikit kotor, lokasi yang seakan sempit dan banyak perahu nelayan, seolah tak layak daerah ini disebut sebagai pantai yang layak dikunjungi meski jauh. Bahkan ketika tiba pertama kali saya sempat bingung harus kemana setelah bertemu dengan jalan buntu yang tidak mungkin lagi dilalui oleh motor, namun setelah beramah-tamah dengan salah satu penjual ikan barulah saya mengetahui arah yang harus dituju. Sebelumnya, ketika saya mengakhiri jalan ujung genteng saya berbelok kekiri karna jalan ke kiri masih beraspal akan tetapi malah menemukan jalan buntu, ternyata kita harus berbelok ke kanan memasuki jalan berpasir putih pantai untuk menuju pantai cibuaya, pantai penangkaran penyu dan pantai ombak tujuh.

jalan buntu

nah… ketika berbelok ke kanan dari jalan ujung genteng memasuki jalan berpasir, disini mulai terlihat kekhasan pantai ujung genteng, pantai berkarang dengan kedalaman air hanya setengah meter sepanjang kurang lebih 500 meter dari bibir pantai hingga ketengah sangat menggoda pengunjung untuk melepaskan sepatu dan menginjakkan kakinya di pantai ini mencari binatang-binatang laut. Karena terlalu letih saya hanya beristirahat saja di atas pasir sambil memandangin alam yang menenangkan ini, namun ketika saya melihat bulu babi yang diambil oleh salah seorang pengunjung, membuat saya tertarik untuk menghampiri.

bulu babi

Karena benar-benar awam dengan tempat wisata ujung genteng, saya memutuskan untuk menyewa tukan ojek agar mengantar saya ke pantai cibuaya dan penangkaran penyu. Tetapi ternyata jalur dari pantai nelayan ke pantai cibuaya tidaklah rumit, hanya memilik satu belokan saja ke arah kiri namun terkadang motor perlu turun ke pantai untuk mendapat jalur yang lebih mudah. Andai tau seperti ini tentu saya ga akan menyewa tukang ojek.

motor pun harus turun ke laut

Pantai cibuaya pantai dengan ombak laut selatannya yang khas, tepi pantainya cenderung tidak berpasir tapi dipenuhi dengan sampah-sampah rumah kerang dan pecahan-pecahan karang kecil, airnya begitu jernih dan menggoda untuk dinikmati seperti halnya pantai nelayan, karna terdapat karang yang datar pula yang bisa dimanfaatkan untuk snorkling. Akan tetapi bedanya bila dipantai nelayan ombaknya hanya sampai di tengah dan tidak ke tepi, namun di pantai cibuaya ini ombaknya cukup besar mencapai tepian. Di titik tertentu dari pantai cibuaya ini dipakai untuk berenang oleh pengunjung. Bila anda ingin menginap, di pantai cibuaya ini terdapat beberapa penginapan yang langsung menghadap ke pantai.


Dari pantai Cibuaya menuju pantai penangkaran penyu, menyusuri jalan berpasir kembali dan becek dibeberapa titik. Setiba saya disana hari masih siang, pantai ini sangat sepi sekali. Hamparan pasir putih yang luas, ombak yang menderu dan besar yang sudah terdengar dari kejauhan sehingga pantai ini tidak digunakan untuk berenang kecuali oleh orang-orang yang profesional. Tujuan saya ke pantai ini adalah ingin ikut melepas tukik-tukik penyu ke samudera dan melihat penyu dewasa naik ke pantai untuk bertelur.

Karena hari masih siang sedangkan pelepasan tukik-tukik penyu baru dilakukan sore hari sekitar jam 5, maka saya mencoba menikmati ketenangan alam disana dengan irama deru ombak. Ketika tiba saatnya pelepasan tukik-tukik penyu ternyata banyak pengunjung yang berdatangan ke pantai ini untuk ikut melepas tukik penyu pula, bahkan terdapat beberapa turis asing.

Setelah melepas tukik penyu dan memasuki waktu maghrib sebenarnya saya ingin menunggu sunset, namun karna udara sedikit mendung maka sunset urung tampak, akhirnya kami disuruh menjauh dari pantai, karna pada malam hari penyu-penyu dewasa akan naik ke pantai untuk bertelur. Bila penyu baru naik tapi mendengar suara berisik atau melihat cahaya di pantai maka penyu tersebut akan kembali ke laut. Barulah setelah penyu tersebut membuat lubang yang waktunya kurang lebih satu setengah jam, kita diperbolehkan mendekat, karna ia tak akan lari.

penyu hijau yang sedang bertelur

Sayangnya saya tidak sanggup melanjutkan perjalanan menuju pantai ombak tujuh, pantai yang dikenal dengan ombaknya yang berlapis-lapis, dikarenakan waktu yang terbatas, dan dari informasi yang saya terima oleh petugas setempat bahwa pantai ombak tujuh sangat jauh jaraknya,  kurang lebih 2-4 jam perjalanan tergantung kondisi, ditambah lagi medannya yang berbatu dan licin, sungguh beresiko bila saya pergi sendirian kesana. Dan ketika bertanya ke tukang ojek pun dia mau mengantar bila bayarannya dua ratus ribu rupiah. Wah sudah kebayang benar deh penderitaannya di jalan berarti. Jadi cukup sampai disini saja.

Dan begitulah kenangan wisata dan touring ke Ujung Genteng.





Mengenang Touring Ujung Genteng (1)

16 08 2011

Pada beberapa hari setelah idul fitri yang lalu, antusiasme dan rasa penasaran saya untuk mengunjungi pantai Ujung Genteng akhirnya terwujudkan. Pantai Ujung Genteng sebagai pantai yang masih terpelihara keasliannya ini dan masih jarang dikunjungi mengingat letaknya yang cukup jauh sangat menantang untuk dikunjungi.

Terletak di sebelah selatan Sukabumi, nama pantai yang diambil dari nama desa ini benar-benar mencerminkan letaknya yang di ujung. Memakai motor membutuhkan 7-8 jam perjalanan dari Jakarta dengan jalan yang berliku menembus hutan dan perkebunan teh dengan jalur yang lebih kecil dari jalan raya Puncak namun lebih panjang jaraknya, sehingga riding jauh menembus Ujung Genteng cukup menghibur.

 

perkebunan teh Surangga, Desa Kertajaya, Kec. Simpenan, Sukabumi

Arah ke Ujung Genteng dari Sukabumi kota mengambil jalur menuju Pantai Pelabuhan Ratu. Sekitar 3-4 km sebelum Pelabuhan Ratu kita akan bertemu pertigaan yang mana bila lurus akan menuju Pelabuhan Ratu dan belok kiri mengarah ke Ujung Genteng. Dari sini perjalanan masih membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam, dan dari sini pulalah jalan yang berliku membelah hutan dan perkebunan teh yang luas di mulai.

Jembatan besar yang akan kita temui setelah keluar dari jalur Pelabuhan Ratu menuju Ujung Genteng

Ketika memasuki desa Ujung Genteng maka kita akan melewati Jalan Ujung Genteng yang cukup panjang, mungkin sepanjang Jl  S. Parman ditambah Jl Gatot Subroto (Grogol-Cawang) bila di Jakarta. Namun bila di Jakarta jalanan begitu sangat macet dan dengan polusi yang menggangu serta dikelilingi gedung-gedung tinggi, namun di jalan Ujung Genteng ini begitu sepi, disebelah kanan terdapat beberapa perumahan warga desa dengan konsentrasi di titik-titik tertentu, dan disebelah kirinya terdapat hamparan padang rumput dan jejeran pohon kelapa, dikejauhan terlihat garis pantai Ujung Genteng di mulai.

Jl. Ujung Genteng

 

Jl Ujung Genteng berakhir dan diputus oleh bibir pantai, artinya ketika kita sudah mengakhiri melintasi Jl Ujung Genteng ini maka telah tibalah kita ditujuan wisata pantai Ujung Genteng, yang dimulai dari pantai nelayan (banyak yang menyebutnya demikian, karna disinilah para nelayan berkumpul dan terdapat TPI/Tempat Pelelangan Ikan).

bibir pantai yang mengakhiri Jl Ujung Genteng

bersama salah seorang penjual ikan di pantai nelayan

to be continued